
Cara Memakai Kalender Jawa dari Terpilih.com
Begitu halaman Kalender Jawa terbuka, kamu bisa langsung memanfaatkan semua fiturnya untuk membaca tanggal, pasaran, dan detail weton tanpa perlu pengaturan rumit. Berikut panduan penggunaannya:
1. Lihat informasi tanggal Jawa hari ini
Di bagian utama halaman, sistem otomatis menampilkan data lengkap untuk hari ini, mulai dari tanggal Jawa, hari (Saptawara), pasaran (Pancawara), weton, neptu, wuku, hingga warsa. Ini cocok kalau kamu hanya ingin tahu weton atau pasaran hari ini secara cepat.
2. Pindah tanggal dengan navigasi kalender
Gunakan tombol panah ← dan → pada kalender untuk berpindah hari maupun bulan. Fitur ini memudahkan kamu mengecek tanggal Jawa di masa lalu maupun masa depan tanpa harus menghitung manual.
3. Pilih bulan dan tahun tertentu
Kalau ingin langsung menuju periode tertentu, gunakan pilihan Bulan dan Tahun yang tersedia. Setelah dipilih, kalender akan otomatis memuat semua tanggal beserta pasaran dan wetonnya untuk periode tersebut.
4. Klik tanggal untuk melihat detail lengkap
Klik salah satu tanggal di kalender untuk membuka informasi rinci. Di sini kamu akan melihat kombinasi hari dan pasarannya (weton), nilai neptu, serta detail lain yang biasa dipakai untuk keperluan adat, perhitungan hari baik, pernikahan, pindah rumah, dan sebagainya.
5. Baca penjelasan tambahan di bawah kalender
Di bagian bawah, tersedia ringkasan tentang cara membaca kalender Jawa—mulai dari arti pasaran, weton, hingga neptu. Ini membantumu memahami makna di balik data yang ditampilkan, bukan hanya angkanya saja.
Pengertian dan Sejarah Kalender Jawa
Kalender Jawa adalah sistem penanggalan tradisional yang memadukan unsur kalender Hindu, Islam, dan budaya Jawa. Sistem ini diperkenalkan secara resmi oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram Islam, pada tahun 1633 Masehi.
Sebelumnya, masyarakat Jawa menggunakan kalender Saka yang berbasis matahari. Namun setelah pengaruh Islam semakin kuat, Sultan Agung mengubah sistem penanggalan menjadi berbasis peredaran bulan seperti kalender Hijriah, tetapi tetap mempertahankan unsur budaya Jawa, seperti siklus pasaran dan windu.
Hasilnya adalah Kalender Jawa Islam, sebuah sistem unik yang tetap digunakan hingga sekarang untuk menentukan weton kelahiran, hari pernikahan, pindahan rumah, hingga ritual adat.
Untuk penjelasan resmi tentang Kalender Jawa termasuk asal-usul dan kombinasi siklus hari 7 dan pasaran 5 hari, lihat definisi di Wikipedia tentang Kalender Jawa (ensiklopedia bebas). Wikipedia – Kalender Jawa (Indonesia)
Dasar Perhitungan Kalender Jawa
Secara teknis, Kalender Jawa mengikuti sistem lunar (bulan), sama seperti kalender Hijriah. Artinya, satu bulan dimulai saat munculnya bulan baru dan satu tahun terdiri dari 354 atau 355 hari.
Namun yang membedakan Kalender Jawa adalah adanya:
- Siklus pasaran (Pancawara)
- Siklus mingguan (Saptawara)
- Siklus 8 tahunan (Windu)
Penjelasan sejarah sinergi kalender Saka dan kalender Hijri yang menghasilkan kalender Jawa juga tersedia di situs Muhammadiyah.org. The Javanese Calendar: A Fusion of Saka and Hijri
Siklus Pasaran (Pancawara)
Dalam Kalender Jawa, satu hari tidak hanya ditentukan oleh nama hari seperti Senin atau Selasa, tetapi juga oleh pasaran. Sistem pasaran inilah yang disebut Pancawara, yaitu siklus 5 hari yang terus berulang tanpa henti.
Pasaran sudah digunakan jauh sebelum masuknya pengaruh Hindu dan Islam. Awalnya, sistem ini dipakai sebagai penanda hari pasar, karena setiap daerah biasanya menggelar pasar besar pada satu pasaran tertentu.
Kini, Pancawara menjadi fondasi utama dalam perhitungan weton, yang dipercaya memengaruhi karakter, rezeki, dan kecocokan seseorang.
Tabel Pasaran Pancawara
| No | Pasaran | Makna Filosofis |
|---|---|---|
| 1 | Legi | Kemanisan, kelembutan, keberkahan |
| 2 | Pahing | Kekuatan, ambisi, energi besar |
| 3 | Pon | Keseimbangan, kecerdasan, stabilitas |
| 4 | Wage | Kesederhanaan, ketenangan, ketekunan |
| 5 | Kliwon | Spiritual, intuisi, kekuatan batin |
Setiap pasaran juga memiliki neptu (nilai angka) yang dipakai dalam perhitungan hari baik.
Neptu Pasaran
| Pasaran | Neptu |
|---|---|
| Legi | 5 |
| Pahing | 9 |
| Pon | 7 |
| Wage | 4 |
| Kliwon | 8 |
Siklus Mingguan (Saptawara)
Selain pasaran, Kalender Jawa juga menggunakan siklus 7 hari yang disebut Saptawara, yang sejalan dengan kalender Masehi dan Hijriah.
Namun dalam budaya Jawa, setiap hari memiliki nilai spiritual dan karakter tersendiri, yang juga dihitung menggunakan sistem neptu, tengok tabel dibawah agar lebih jelas:
| Hari | Neptu | Makna Umum |
|---|---|---|
| Minggu (Ahad) | 5 | Jiwa kepemimpinan, optimisme |
| Senin | 4 | Ketenangan, kebijaksanaan |
| Selasa | 3 | Keberanian, ketegasan |
| Rabu | 7 | Kecerdasan, komunikasi |
| Kamis | 8 | Wibawa, kebijaksanaan |
| Jumat | 6 | Kebaikan, keberkahan |
| Sabtu | 9 | Kekuatan, kesabaran |
Nilai neptu hari ini kemudian dijumlahkan dengan neptu pasaran untuk menentukan karakter weton dan kecocokan.
Kombinasi Saptawara dan Pancawara (Weton)
Karena ada 7 hari dan 5 pasaran, maka terdapat 35 kombinasi weton, berikut contohnya
| Hari | Pasaran | Contoh Weton |
|---|---|---|
| Senin | Legi | Senin Legi |
| Selasa | Kliwon | Selasa Kliwon |
| Jumat | Pahing | Jumat Pahing |
| Rabu | Wage | Rabu Wage |
| Sabtu | Pon | Sabtu Pon |
Weton inilah yang paling sering dipakai untuk:
- Menentukan hari pernikahan
- Menghitung kecocokan jodoh
- Menentukan hari pindah rumah
- Membaca karakter seseorang
Siklus 8 Tahunan (Windu)
Dalam Kalender Jawa, waktu tidak hanya dihitung per tahun, tetapi juga melalui siklus delapan tahunan yang disebut windu. Satu windu terdiri dari 8 tahun, dan setelah selesai, perhitungannya kembali ke awal lagi.
Siklus ini digunakan untuk berbagai keperluan adat, mulai dari menghitung weton jangka panjang, menentukan hari baik, hingga membaca karakter berdasarkan tahun kelahiran.
Berikut susunan tahun dalam satu windu Kalender Jawa:
| No | Nama Tahun | Makna Singkat |
|---|---|---|
| 1 | Alip | Awal siklus, keteguhan, fondasi kehidupan |
| 2 | Ehe | Perubahan, pergerakan, dan proses belajar |
| 3 | Jimawal | Pertumbuhan, perkembangan, dan kemajuan |
| 4 | Je | Keseimbangan, ketenangan, dan stabilitas |
| 5 | Dal | Ujian hidup, pendewasaan, kekuatan batin |
| 6 | Be | Kemakmuran, keberuntungan, dan kelancaran |
| 7 | Wawu | Energi besar, aktivitas, dan perubahan |
| 8 | Jimakir | Penutup siklus, evaluasi, persiapan awal baru |
Setelah Jimakir, siklus kembali ke Alip dan memulai windu baru.
Penjelasan lengkap tentang windu (8-tahun siklus) dan istilah lain seperti kurup bisa ditemukan di Kiddle Encyclopedia. Javanese calendar Facts for Kids (Windu)
Kenapa Ketiga Siklus Ini Penting?
Kalender Jawa bukan hanya mencatat tanggal, tapi menyatukan:
- Saptawara (7 hari)
- Pancawara (5 pasaran)
- Windu (8 tahun)
Gabungan ketiganya membentuk sistem penanggalan yang sangat detail, yang membuat orang Jawa bisa membaca “watak waktu” — apakah suatu hari dianggap baik, berat, ringan, atau penuh berkah.
Inilah yang membuat Kalender Jawa tetap hidup hingga sekarang: bukan sekadar kalender, tapi alat membaca ritme kehidupan.
Daftar Bulan pada Kalender Jawa Islam
Kalender Jawa Islam terdiri dari 12 bulan yang mengikuti sistem Hijriah, namun menggunakan nama khas Jawa. Sistem ini dibuat agar masyarakat Jawa bisa menjalankan ajaran Islam tanpa meninggalkan tradisi lokal. Karena berbasis bulan, pergerakan tanggalnya juga maju setiap tahun jika dibandingkan kalender Masehi.
Berikut tabel gabungan bulan Jawa dan padanan Hijriahnya.
Tabel Bulan Kalender Jawa Islam
| No | Bulan Jawa | Bulan Hijriah | Keterangan |
|---|---|---|---|
| 1 | Sura | Muharram | Bulan sakral, sering dipakai untuk tirakat dan refleksi diri |
| 2 | Sapar | Safar | Bulan penyeimbang setelah Sura |
| 3 | Mulud | Rabiul Awal | Bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW |
| 4 | Bakda Mulud | Rabiul Akhir | Masa setelah perayaan Maulid |
| 5 | Jumadilawal | Jumadil Awal | Bulan biasa dalam siklus Jawa |
| 6 | Jumadilakir | Jumadil Akhir | Penutup bulan Jumadil |
| 7 | Rejeb | Rajab | Bulan mulia untuk doa dan selamatan |
| 8 | Ruwah | Syaban | Bulan mendoakan leluhur |
| 9 | Pasa | Ramadan | Bulan puasa |
| 10 | Sawal | Syawal | Bulan Lebaran |
| 11 | Dulkangidah | Dzulqa’dah | Bulan tenang sebelum haji |
| 12 | Besar | Dzulhijjah | Bulan haji dan Idul Adha |
Meski namanya berbeda, urutan dan fungsi bulannya sama dengan kalender Hijriah. Inilah yang membuat Kalender Jawa tetap relevan untuk kebutuhan adat maupun keagamaan hingga sekarang.
Cara Membaca Kalender Jawa
Membaca Kalender Jawa pada dasarnya adalah memahami kombinasi tanggal, bulan, hari, dan pasaran. Tidak seperti kalender biasa yang hanya menunjukkan hari dan tanggal, kalender Jawa menambahkan unsur pasaran untuk membentuk identitas unik setiap hari yang disebut weton.
Pertama, tentukan tanggal dan bulan Jawa, seperti 1 Sura, 10 Ruwah, atau 15 Besar. Bulan-bulan ini mengikuti sistem lunar seperti kalender Hijriah. Setelah itu, lihat hari dalam sepekan (Saptawara), yaitu Minggu sampai Sabtu. Selanjutnya, tentukan pasaran (Pancawara) yang terdiri dari Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.
Gabungan antara hari dan pasaran itulah yang disebut weton, misalnya Jumat Kliwon, Selasa Pon, atau Senin Legi. Weton ini sangat penting dalam budaya Jawa karena menjadi dasar untuk menentukan hari baik, menghitung kecocokan jodoh, hingga memilih waktu yang tepat untuk acara penting.
Dalam kalender Jawa modern, biasanya semua unsur ini sudah ditampilkan sekaligus. Jika tertulis “Jumat Kliwon, 1 Sura”, artinya hari itu adalah Jumat dengan pasaran Kliwon, tanggal 1 di bulan Sura. Dengan membaca satu baris ini saja, orang Jawa sudah bisa langsung mengetahui posisi hari tersebut dalam sistem penanggalan Jawa dan maknanya dalam perhitungan tradisional.
Satu pemikiran pada “Kalender Jawa Online: Tanggal Jawa Hari Ini & Pasaran”