| Selamatan | Hari ke- | Tanggal | Hari & Pasaran | Keterangan |
|---|
Pendhak 1 & 2 memakai patokan umum tahun Jawa (lunar) ≈ 354 hari, sehingga bersifat estimasi dan dapat berbeda menurut tradisi.
Hari wafat dihitung sebagai hari ke-1.
Contoh: wafat tanggal 10, maka “3 hari” jatuh pada tanggal 12 (10 = 1, 11 = 2, 12 = 3).
Dihitung berbasis jumlah hari (bukan bulan), sehingga mengikuti kalender Masehi sesuai tanggal yang kamu masukkan.
Karena “tahun Jawa” bersifat lunar dan panjangnya bisa bervariasi, kalkulator ini memakai patokan umum:
- 1 tahun Jawa ≈ 354 hari (12 bulan lunar).
- 2 tahun Jawa ≈ 708 hari.
Dihitung dari kombinasi hari 7-an (Minggu–Sabtu) dan pasaran 5-an (Legi–Kliwon).
Neptu = neptu hari + neptu pasaran.
Tanggal Hijriah memakai kalender Islam (Umm al-Qura bila tersedia di browser).
Tanggal “Jawa” di sini mengikuti pendekatan populer (tahun = Hijriah + 512, bulan = padanan bulan Jawa).

Cara Memakai Kalkulator Selamatan Orang Meninggal dari Terpilih.com
Kalkulator ini dibuat untuk membantu keluarga menentukan jadwal tahlilan dan selamatan secara cepat dan akurat sesuai perhitungan Jawa. Dengan memasukkan satu tanggal saja, sistem akan langsung menampilkan seluruh rangkaian hari penting seperti 3 hari, 7 hari, 40 hari, hingga 1000 hari (nyewu), lengkap dengan wetonnya.
Berikut panduan cara menggunakannya.
1. Masukkan tanggal meninggal
Isi kolom Tanggal Meninggal dengan tanggal, bulan, dan tahun wafatnya almarhum atau almarhumah berdasarkan kalender Masehi.
2. Klik tombol “Hitung Selamatan”
Setelah tanggal diisi dengan benar, klik tombol Hitung Selamatan untuk memulai proses perhitungan.
3. Lihat hasil perhitungan jadwal selamatan
Dalam hitungan detik, sistem akan menampilkan jadwal lengkap selamatan sesuai tradisi Jawa, mulai dari:
- Selamatan 3 hari
- 7 hari
- 40 hari
- 100 hari
- 1 tahun (Pendhak I)
- 2 tahun (Pendhak II)
- 1000 hari (Nyewu)
Setiap jadwal sudah dilengkapi dengan tanggal Masehi serta weton (hari dan pasaran Jawa) yang dihitung otomatis.
4. Bagikan hasil jika diperlukan
Hasil perhitungan dapat langsung dibagikan ke keluarga atau kerabat melalui tombol Share ke WhatsApp, sehingga koordinasi persiapan selamatan menjadi lebih mudah.
Apa Itu Selamatan Orang Meninggal?
Selamatan orang meninggal adalah rangkaian doa dan kenduri yang dilakukan keluarga untuk mendoakan arwah orang yang telah wafat. Secara harfiah, selamatan berasal dari kata “selamat”, yang berarti memohon keselamatan, ketenangan, dan ampunan bagi almarhum.
Dalam praktik masyarakat Jawa dan Nusantara, selamatan biasanya disertai dengan tahlilan, yaitu pembacaan doa-doa, dzikir, dan ayat Al-Qur’an.
Meski sering dianggap sama, sebenarnya ada perbedaan makna:
- Tahlilan → aktivitas berdoa dan berdzikir
- Kenduri → makan bersama sebagai bentuk syukur
- Selamatan → keseluruhan ritual spiritual dan sosial
Dalam kepercayaan Jawa-Islam, setiap fase waktu setelah kematian memiliki makna spiritual. Oleh karena itu, perhitungan berdasarkan weton kematian, pasaran Jawa kematian, dan kalender Jawa kematian dianggap penting agar doa dilakukan tepat pada momen yang diyakini paling bermakna.
Daftar Selamatan yang Umum Dilakukan
Berikut rangkaian selamatan yang lazim dalam tradisi Jawa dan tahlilan:
1. Geblak – Hari Kematian
Selamatan geblak adalah selamatan yang dilakukan tepat pada hari wafatnya seseorang.
Dalam kepercayaan Jawa:
- Hari wafat menandai putusnya ikatan raga dan ruh
- Doa pertama diyakini sangat menentukan ketenangan awal almarhum
Penentuan Geblak:
- Berdasarkan hari dan pasaran Jawa kematian
- Contoh: Jumat Legi, Selasa Kliwon, dll
Weton inilah yang kemudian menjadi weton selamatan, dipakai untuk menghitung semua tahlilan berikutnya.
2. Nelung Dina – 3 Hari Selametan
Selamatan nelung dina dilakukan pada hari ke-3 sejak wafat.
Makna spiritualnya:
- Ruh mulai meninggalkan dunia sepenuhnya
- Didoakan agar tidak terikat pada hal-hal duniawi
Perhitungan:
Hari wafat dihitung sebagai hari pertama
Maka nelung dina = wafat + 2 hari
Fase ini penting karena menjadi awal siklus selamatan bertahap.
3. Mitung Dina – 7 Hari Selametan
Selamatan mitung dina jatuh pada hari ke-7.
Dalam budaya Jawa:
- Angka 7 melambangkan penyempurnaan satu putaran waktu
- Doa dimaksudkan agar ruh mendapat tempat yang baik di alam barzakh
Tanggal mitung dina harus sesuai dengan siklus pasaran Jawa, sehingga tidak bisa dihitung asal tambah 7 hari saja.
4. Matangpuluh – 40 Hari Selametan
Selamatan matangpuluh dilakukan pada hari ke-40 setelah wafat.
Maknanya sangat dalam:
- 40 hari dipercaya sebagai masa penyelesaian ikatan ruh dengan dunia
- Banyak ulama dan tradisi lokal memaknai ini sebagai fase akhir transisi
Karena itulah, di banyak daerah, selamatan 40 hari sering dibuat lebih besar.
Dalam kalender Jawa kematian, hari ke-40 harus tetap disesuaikan dengan weton.
5. Nyatus – 100 Hari Selametan
Selamatan nyatus adalah peringatan 100 hari wafat.
Makna:
- Menandai bahwa ruh telah sepenuhnya berada di alam barzakh
- Keluarga mendoakan agar amal almarhum diterima
Perhitungannya:
Hari wafat + 99 hari
Namun tetap dicek dengan pasaran Jawa kematian agar wetonnya tepat.
6. Pendhak I – 1 Tahun
Selamatan pendhak 1 sering disalahpahami sebagai “setahun kalender Masehi”.
Padahal dalam tradisi Jawa:
- 1 tahun = 12 bulan Jawa (Hijriah)
- Total sekitar 354 hari
Pendhak 1 selalu kembali ke weton kematian yang sama.
7. Pendhak II – 2 Tahun
Selamatan pendhak 2 dilakukan pada siklus weton kedua.
Artinya:
- Dua kali putaran tahun Jawa sejak wafat
- Biasanya sekitar 708 hari
Fungsinya adalah memperpanjang doa jangka panjang bagi almarhum.
8. Nyewu – 1000 Hari
Selamatan nyewu adalah puncak dan penutup rangkaian selamatan besar.
Dilakukan pada:
Hari ke-1000 sejak wafat
Dalam kepercayaan Jawa:
- Ruh dianggap telah benar-benar menetap di alam akhirat
- Setelah nyewu, tidak ada lagi kewajiban selamatan besar
Karena itu, nyewu sering dibuat lebih khidmat dan melibatkan keluarga besar.
Untuk memudahkan, bisa dilihat pada tabel di bawah ini
| No | Nama Selamatan | Hari ke- | Dasar Perhitungan | Fungsi & Makna Spiritual |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Geblak | Hari ke-1 | Hari wafat + pasaran Jawa | Penanda resmi wafatnya seseorang dan awal seluruh perhitungan weton selamatan |
| 2 | Nelung Dina | Hari ke-3 | Wafat + 2 hari | Doa agar ruh tenang saat mulai meninggalkan dunia |
| 3 | Mitung Dina | Hari ke-7 | Wafat + 6 hari | Penyempurnaan satu siklus awal perjalanan ruh |
| 4 | Matangpuluh | Hari ke-40 | Wafat + 39 hari | Fase akhir pelepasan ruh dari ikatan dunia |
| 5 | Nyatus | Hari ke-100 | Wafat + 99 hari | Peneguhan doa setelah ruh menetap di alam barzakh |
| 6 | Pendhak I | ±354 hari | 1 tahun Jawa (Hijriah) | Selamatan 1 tahun berdasarkan weton kematian |
| 7 | Pendhak II | ±708 hari | 2 tahun Jawa | Perpanjangan doa jangka panjang |
| 8 | Nyewu | Hari ke-1000 | Wafat + 999 hari | Penutup rangkaian selamatan besar |
Tabel di atas memperlihatkan urutan lengkap selamatan berdasarkan weton kematian, pasaran Jawa kematian, dan perhitungan hari dalam kalender Jawa kematian.
Cara Menghitung Tanggal Selamatan
Menghitung tanggal selamatan orang meninggal tidak sama dengan menghitung tanggal ulang tahun atau peringatan biasa. Dalam tradisi Jawa, perhitungan selalu melibatkan tiga sistem sekaligus: kalender Masehi, kalender Hijriah, dan kalender Jawa. Di sinilah peran kalkulator selamatan orang meninggal menjadi sangat penting.
1. Menentukan Weton Kematian
Langkah pertama adalah mengetahui weton kematian, yaitu gabungan antara:
- Hari lahir wafatnya (Senin, Selasa, Rabu, dst)
- Pasaran Jawa (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon)
Contoh:
Seseorang wafat pada Kamis Kliwon.
Itu berarti weton kematiannya adalah Kamis Kliwon dan akan menjadi dasar semua selamatan berikutnya, termasuk selamatan nelung dina, mitung dina, matangpuluh, nyatus, pendhak, hingga nyewu.
Tanpa weton ini, perhitungan kalender Jawa kematian akan meleset.
2. Memahami Sistem Hari & Pasaran
Kalender Jawa memiliki dua siklus:
- Siklus 7 hari (Senin sampai Minggu)
- Siklus 5 pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon)
Kedua siklus ini berjalan bersamaan dan bertemu setiap 35 hari. Itulah sebabnya satu weton yang sama baru terulang setiap 35 hari.
Karena itu, saat menghitung pasaran Jawa kematian, kita tidak hanya menambah tanggal, tapi juga memutar siklus hari dan pasarannya.
3. Menentukan Nilai Neptu Hari Kematian
Setiap hari dan pasaran memiliki nilai yang disebut neptu.
Neptu inilah yang dipercaya membawa energi spiritual dari weton seseorang.
Contoh:
- Jumat = 6
- Kliwon = 8
Jika seseorang wafat pada Jumat Kliwon, maka neptu hari kematian = 14.
Nilai ini sering dipakai dalam tradisi Jawa untuk menentukan hari yang baik bagi selamatan.
4. Cara Menghitung Selamatan Berdasarkan Hari
Dalam praktiknya, semua selamatan dihitung berdasarkan hari kematian sebagai hari pertama:
| Selamatan | Perhitungan |
|---|---|
| Geblak | Hari wafat |
| Selamatan nelung dina | Hari ke-3 |
| Selamatan mitung dina | Hari ke-7 |
| Selamatan matangpuluh | Hari ke-40 |
| Selamatan nyatus | Hari ke-100 |
| Selamatan pendhak 1 | 1 tahun Jawa |
| Selamatan pendhak 2 | 2 tahun Jawa |
| Selamatan nyewu | Hari ke-1000 |
Contoh:
Jika wafat pada 1 Maret, maka:
- Nelung dina = 3 Maret
- Mitung dina = 7 Maret
- Matangpuluh = 9 April
Namun tanggal ini masih harus disesuaikan dengan pasaran dan weton Jawa.
5. Mengapa Kalender Jawa Lebih Diutamakan
Kalender Masehi hanya menghitung hari. Sementara kalender Jawa kematian menghitung hari, pasaran, dan bulan Hijriah.
Itulah sebabnya:
- Selamatan pendhak 1 tidak selalu jatuh tepat setahun Masehi
- Selamatan pendhak 2 dan nyewu sering berbeda dari kalender umum
Perhitungan yang benar harus mengembalikan tanggal ke weton kematian.
6. Mengapa Perlu Kalkulator Selamatan Orang Meninggal
Menghitung manual memang bisa, tetapi sangat rawan salah karena harus:
- Menghitung hari
- Menggeser pasaran
- Menyesuaikan kalender Hijriah
Dengan kalkulator selamatan meninggal ini, semua itu dilakukan otomatis sehingga keluarga tidak perlu takut salah menentukan selamatan geblak, nelung dina, mitung dina, matangpuluh, nyatus, pendhak 1, pendhak 2, hingga nyewu.
Dan yang paling penting, doa bisa dipanjatkan dengan tenang, tepat waktu, dan sesuai tradisi. 🙏
Pertanyaan Seputar Selamatan Kematian
Kenapa pasaran Jawa kematian harus dihitung?
Karena setiap hari dalam kalender Jawa terdiri dari hari dan pasaran. Pasaran Jawa kematian menentukan weton dan neptu yang menjadi dasar perhitungan semua selamatan.
Apa hubungan neptu dengan selamatan?
Neptu hari kematian digunakan untuk memastikan siklus weton selamatan tetap selaras. Dalam tradisi Jawa, keseimbangan neptu diyakini berpengaruh pada keharmonisan doa.
Apakah weton selamatan selalu sama dengan weton kematian?
Tidak selalu sama, tetapi pendhak 1, pendhak 2, dan nyewu biasanya kembali ke weton kematian sebagai titik spiritual tahunan.
Apa bedanya selamatan 40 dan 100 hari?
40 hari adalah fase transisi ruh, sedangkan 100 hari adalah peneguhan doa setelahnya.
Kenapa selamatan nyewu dianggap paling penting?
Selamatan nyewu (1000 hari) menandai penutupan siklus doa besar dalam tradisi Jawa. Setelah nyewu, ruh diyakini telah menyatu sepenuhnya di alam akhirat.
Apakah selamatan pendhak 1 sama dengan haul?
Mirip, tapi tidak sama. Selamatan pendhak 1 mengikuti sistem kalender Jawa dan weton, sedangkan haul biasanya mengikuti kalender Hijriah atau Masehi.
Jika meninggal di malam hari, hari apa yang dipakai?
Dalam tradisi Jawa, hari kematian tetap mengikuti hari saat meninggal, bukan setelah lewat tengah malam. Ini penting dalam menentukan weton kematian.
Karena selamatan merupakan bagian dari tradisi budaya yang hidup dalam keseharian masyarakat Jawa, banyak kalangan menganggapnya sebagai bentuk komunitas dan solidaritas sosial.
Jika kamu ingin memahami lebih jauh bagaimana slametan juga berfungsi dalam masyarakat yang lebih luas, Wikipedia memiliki penjelasan menyeluruh tentang ritual slametan Jawa, termasuk berbagai konteks sosial dan ritual yang menyertainya.